Refleksi

Dari Boks Token Listrik Nyatakan Sabda Yesus Hidup

“Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Lukas 6:38)

Ketika merefleksikan Lukas 6:36-38, perhatian saya tertuju ayat 38 yang mengingatkan saya peristiwa yang saya alami belum lama ini. Masih hangat diingatan saya, Minggu pagi, 28 Februari 2021, ketika ada petugas memasang instalasi pergantian boks token listrik di “apartemen horizontal” alias kontrakan (deret ke samping) yang saya tempati.

Pagi itu, pengelola rumah sempat meminta iuran sukarela para penghuni untuk diberikan kepada petugas yang memperbaiki kotak token listrik. Alat yang diganti sebenarnya gratis. Jadi tidak perlu diberikan biaya apa pun kepada petugas listrik itu karena akan dianggap sebagai pungli (pungutan liar).

Namun demikian, sebagai masyarakat yang masih menganut “tidak baik, kalau tidak memberi tips” maka beberapa penghuni pun pada saweran. Saya sendiri menyerahkan lembar uang coklat muda kepada pengelola kontrakan.

Menurut pengelola nanti akan diserahkan kepada koordinator petugas penganti boks token listrik. Maklum saja dari sekitar 35 pintu, ada separohnya yang mendapatkan pergantian boks token akibat alatnya sudah usang masa pakainya.

Akhirnya giliran kamar rumah saya yang diganti. Istri saya sempat melihat pergantian boks token listrik itu seraya tanya-tanya sekadarnya. Saya sempat berpikir lembar coklat muda yang saya berikan tidaklah seberapa adanya ketimbang pekerjaan yang dilakukan petugas itu yang berisiko terhadap sengatan arus voltase listrik.

Hati kecil saya didorong suatu niatan untuk memberikan tambahan sedikit. Saya menyadari, berkat Tuhan sungguh luar biasa yang telah saya peroleh sejak bulan Januari hingga akhir Februari tahun 2021. Saya merasa Tuhan sudah memberikan saya rezeki yang cukup untuk kehidupan sehari-hari selama ini.

Meskipun kata “Cukup” itu relatif, dan setiap orang berbeda-beda rasa cukupnya. Namun dalam keterbatasan saya akhirnya saya memberikan tambahan lagi lembar uang ungu kepada petugas instalasi itu.

“Pak, maaf ini buat ngopi,” kata saya seraya menyerahkan lipatan kecil lembar ungu tersebut.

“Duh.. ga usah pak!” kata petugas itu agak sungkan.

“Gapapa pak, ini buat ngopi,” kata saya seraya sodorkan lagi lembaran ungu itu.

“Terima kasih ya pak,” jawab petugas itu menerima.

“Iya pak, terima kasih banyak ya!” kata saya lagi.

Para sahabat terkasih, berkaitan ayat injil yang saya refleksikan kali ini, saya teringat ketika terjadi dialog dalam batin saya sebelum memberikan sedikit tambahan uang tips kepada petugas itu. Saya sempat merasakan ada dorongan suara hati saya untuk memberi sedikit kepadanya.

Sedangkan ada pula ego dalam pikiran saya yang mengatakan, “sudah cukup sekali saja (lembar coklat muda), tidak perlu memberi lagi. Wong saya sendiri lagi hemat anggaran.”

Namun demikian, saya lebih memilih memberikan tambahan sedikit (lembar ungu) karena saya melakukannya untuk Tuhan yang telah mendorong saya untuk memberikannya kepada petugas itu.

Sahabat terkasih, sungguh saya terkejut ketika belum ada satu jam berlalu, handphone saya ada bunyi pesan masuk dari mantan dosen kuliah yang menanyakan jualan puding yang saya kelola marketingnya.

Maklum saja, saya setiap Sabtu dan Minggu mempromosikan jualan milik keluarga, kolega, dan sahabat melalui WhatsApp *”SY Melki SP & Partners”* dan hatiyangbertelinga.com (maaf iklan sekalian).

Mohon dimaklumi juga karena saya yang masih dua bulan ini merintis “bisnis online” sangat sukacita mendapatkan respons dari orang-orang. Jadi, setelah percakapan dengan mantan dosen saya itu, perasaan saya begitu senang dengan ucapan syukur yang tidak terucap karena saya baru saja memberikan tanda kasih kepada orang lain dan saya malahan “dibalas” diberikan Tuhan berkat kasih melalui orang yang lainnya.

Sungguh ayat yang saya refleksikan kali ini sungguh hidup dan nyata. Perkataan Yesus Kristus kepada murid-murid-Nya ternyata berlaku juga kepada saya, “Suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaan Melki. Sebab ukuran yang Melki pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepada Melki.” (bdk. Lukas 6:38)

Hingga refleksi ini dibuat, saya masih tidak menyangka, bacaan Injil yang saya refleksikan tengah malam ini sungguh meneguhkan, menginspirasi, dan memberikan kekuatan kepada saya untuk bersyukur kepada Tuhan Yesus, Sabda Allah yang hidup. Saya menyakini, Tuhan sungguh nyata dan ada.

Apakah saya sudah layak mensyukuri Kasih Allah yang nyata dan hidup?

+Terpujilah Engkau Allah Maha Murah Hati dan Maha Belas Kasih. Kami bersyukur untuk Sabda-Mu yang hidup dan nyata melalui Yesus Kristus. Tuhan, kami berterima kasih untuk berkat kasih-Mu yang masih tercurah hingga detik ini. Mampukan kami untuk menyadari segala kasih-Mu dalam setiap hal dalam kehidupan kami ini agar Engkau senantiasa kami permuliakan detik ini dan selama-lamanya. Amin.+

Refleksi Awam, Pekan Prapaskah II (U). St. Feliks III; St. David, Senin 1 Maret 2021
@Harapan Jaya, SY Melki SP

#Keterangan Foto: Boks Token Listrik yang telah diganti

Refleksi

Yesus Versi Empiris Saya

Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.” (Matius 16:17)

Kalau Yesus bertanya kepada saya detik ini: “Tetapi apa kata Melki, siapakah Aku ini?”

Saya menjawab, “Yesus, Engkau sahabatku. Engkau penolongku. Engkau semangatku. Engkau sumber keselamatan hidupku.”

Engkau Yesus, Allah yang hidup dalam suka dukaku. Saat dalam keterpurukanku Engkau menemaniku.

Engkau penyemangatku dalam mewartakan kasih-Mu. Tanpa Engkau batinku kosong. Hidupku menjadi hampa tanpa kehadiran Roh-Mu, Yesus.

Beberapa hari terakhir, saya beberapa kali mengeluh dalam hati yang lunak ini. Berbicara dalam batin untuk Tuhan memperlihatkan maksud baik-Nya dalam kesusahan rohani yang melanda saya akhir-akhir ini.

Saya meminta Tuhan agar perasaan yang mengganggu saya sementara ini segera berlalu, tapi bukan karena kehendak saya melainkan kehendak Bapa di surga.

Hari ini saya diinpirasi oleh kisah Simon Petrus yang mengakui Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.

Atas jawaban Petrus itu, Yesus mengatakan, “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.”

Dari kisah Petrus itu saya diinspirasi untuk mengungkapkan tentang siapa Yesus versi empiris rohani saya di atas.

Ungkapan saya itu bukan hanya karena sisi pengalaman kemanusiaan saya saja, melainkan kehendak Bapa yang di sorga yang mendorong saya untuk mengungkapkan tentang siapa Yesus versi saya itu.

Apakah Yesus versi empiris saya sesuai kehendak Allah Bapa?

+Dimuliakanlah Tuhan detik ini, sekarang dan selama-lamanya. Amin.+

@Tebet Timur, SY Melki SP

Refleksi Awam, Senin, 22 Februari 202, Pesta Takhta St. Petrus

Refleksi

“Sembunyiin” Kalo Lagi Puasa dan Ngepantang!

*Disclaimer!!! #Refleksi Awam edisi Gen Y (81-94) & Z (95-Now) spesial Rabu Abu*

Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. (Matius 6:17-18)

Hallo gaess jumpa lagi dengan gue. Kali ini gue sharing refleksi Injil Mat.6:1-6.16-18, bacaan Liturgi, 17 Februari 2021.

Saat gue ngebaca injil yang bertepatan dengan Hari Rabu Abu, gue nemuin tiga hal pokok soal sedekah, berdoa, dan berpuasa. Kali ini refleksi gue fokus sama tentang puasa, tapi enggak nutup diri juga untuk sharing tentang sedekah dan berdoa.

Bro n Sis Sohib Jesus, berpuasa yang dikaitkan sama doa punya banyak tujuan seperti yang gue kutip dari YLSA. Tujuan puasa yaitu untuk nghormati Allah; ngerendahin diri di hadapan Allah agar lebih banyak ngalamin kasih karunia dan kehadiran Allah yang khusus; ngeratapi dosa dan kegagalan pribadi; serta ngeratapi dosa-dosa gereja, bangsa, dan dunia.

Kemudian puasa itu nyari kasih karunia untuk tugas yang baru dan netapin lagi penyerahan kita kepada Allah; nyari Allah dengan dekatin Dia dan bertekun di dalam doa melawan kuasa-kuasa rohani yang menentang; serta nunjukin pertobatan diri dan berikan kesempatan kepada Allah untuk ngubah hukuman kita.

Selain itu puasa dapat nyelamatin orang dari kuk kejahatan; dapatin petunjuk dan hikmat kehendak Allah; ngedisiplinin tubuh kita agar dapat nguasain diri; dan ngebuka jalan bagi pencurahan Roh Kudus dan nantikan datangnya Kristus kembali untuk umat-Nya.

Bro n Sis sohib Jesus dan sohib Hati Yang Bertelinga, gue sendiri tuh pernah ngelakuin puasa selama 40 harian. Puasa dan pantang gue bukan yang enggak makan sama sekali, karena gue bukan manusia setengah dewa.

Puasa dan pantang yang biasa gue lakuin sama seperti anjuran puasa dari Gereja Katolik. Hanya saja gue agak kombinasiin dikit dengan puasa pada umumnya.

Baca juga: Peraturan Pantang dan Puasa 2021 KAJ

Jadi waktu gue lulus SMA gue nyoba puasa pada masa prapaskah. Dari hari pertama Rabu Abu gue bangun sekitar pukul 5 atau jam 6 pagi untuk makan nasi putih dengan lauk yang rasanya tawar gitu. Terus dari pagi itu sampe jam 6 sorean gue baru buka puasa.

Dulu itu gue ngerasa masih dalam tanda kutip “kuat” untuk berpuasa. Enggak ada tuh yang namanya jadi beban dengan berat badan, dehidrasi cairan, maupun bermasalah sama lambung. Memang sih jadinya gue agak “langsing” gitu dengan berat badan sekitar 60 kilograman, padahal tinggi gue cuma sekotar 170-an centimeter.

Apa sih yang gue dapat selama jalani puasa dan pantang selama 40 hari? Sumpah banyak banget deh yang gue dapatin. Selain kekayaan rohani tentu juga buat jasmani.

Saat jalani puasa dan ngepantang yang juga disertai dengan doa akan lebih terasa banget bedanya sama hari-hari di luar masa prapaskah, apalagi seraya ngelakuin sedekah. Gue rindu banget bisa ngelakuin serentak kaya gitu selama di masa prapaskah.

Gue sendiri tuh ngarepin bisa ngelakuin puasa dan pantang semaksimal mungkin pada tahun ini. Soalnya gue nyadar diri kalo beberapa tahun terakhir ini gue enggak bisa “full” puasa dengan benar.

Bro n Sis sohib Hati Yang Bertelinga dan juga Sohib Jesus, kita diminta saat berpuasa untuk minyakin kepala kita agar keliatan segar seperti layaknya baru mandi gitu. Kita juga diminta nyuci muka kita agar enggak kelihatan seperti orang kehausan ato tampak lemas gitu.

Intinya, kata Sohib Jesus supaya kita jangan dilihat oleh orang lain bahwa kita lagi berpuasa. Jadi mari kita “sembunyiin” tuh kalo kita lagi puasa dan ngepantang di hadapan orang lain, tapi hanya diketahui oleh Allah Bapa saja yang ada di tempat tersembunyi. Maka Allah Bapa yang melihat puasa dan pantang kita yang tersembunyi itu akan membalasnya kepada kita berkat dan rahmat kasih-Nya.

Bro n sis, mari kita berpuasa berdoa, dan bersedekah pada masa prapaskah tahun ini. Enggak ada salahnya kan gaes kita laksanain ketiga hal itu?

Oke gaes, sekian dulu sharing dan refleksi gue. Sampai jumpa lain waktu ya gaes.

Salam satu iman dalam Sohib Jesus.

by Hati Yang Bertelinga

Refleksi, Tak terkategori

Yesus Tanda Kasih Sejati dari Surga

Lalu muncullah orang-orang Farisi dan bersoal jawab dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari pada-Nya suatu tanda dari sorga. (Mrk 8:11)

Ketika merefleksikan bacaan Injil Markus 8:11-13, saya teringat pernah mencobai Yesus. Bahkan bukan cuma sekali tapi cukup sering. Ayat 11 kali ini menyadarkan saya kembali bahwa Tuhan itu Maha Sabar dan maha belas kasih kepada saya selama ini.

Bagi saya, Tuhan itu sudah memberikan tanda dari surga kepada saya bukan dengan hal-hal dahsyat, melainkan dengan cara-Nya yang sederhana dan unik. Dalam sebulan terakhir hingga detik malam ini saya diberikan “tanda” dari Tuhan dengan luar biasa.

Satu pengalaman saya diberikan tanda dari Tuhan itu yaitu Tuhan menjawab doa permohonan batin saya mengenai pekerjaan tambahan dalam membangun website pribadi dan menjadi dropshipper. Itu tanda-Nya yang saya pahami dan maknai.

Para sahabat terkasih, jadi tahun lalu saya berdoa dalam hati yang lunak ini kepada Tuhan. Saya meminta Tuhan untuk diberikan sidejob agar dapat menambah kebutuhan finansial keluarga.

Saya sempat berpikir kalau Tuhan, “mungkin” mengabaikan doa dalam batin saya saat itu. Saya berpikir seperti dikisahkan Injil Markus bahwa Yesus mengeluh dalam hati-Nya dan berkata: “Mengapa Melki meminta tanda? Aku berkata kepada Melki, sesungguhnya kepada Melki sekali-kali tidak akan diberi tanda.”

Namun demikian, ketika saya sudah melupakan doa-doa saya waktu itu, justru Tuhan memberikan tanda kasih-Nya melalui kegiatan baru saya sebulan terakhir ini.

Saya bersyukur kepada Tuhan karena saya yang tadinya sempat berpikir seperti orang-orang Farisi, justru diberikan tanda-Nya dengan mengabulkan doa saya sebelumnya. Saya menjadi semakin menyadari bahwa Yesus merupakan tanda kasih sejati dari surga untuk saya yang penuh dengan dosa-dosa.

+Terpujilah Engkau Tuhan, Allah Bapa di surga. Terima kasih untuk tanda cinta kasih-Mu melalui Yesus, Putra-Mu. Kami bersyukur untuk Roh Kudus yang tercurah bagi kami hingga detik ini. Ampuni kami yang sering mencobai Engkau dengan banyak meminta tanda dari surga. Tuhan Yesus bentuklah hati kami untuk selalu bersyukur, memuji dan memuliakan Allah, sekarang dan selama-lamanya. Amin.+

SY Melki SP
@Harapan Jaya, Bekasi Utara, Pekan Biasa VI, Senin 15 Februari 2021.

Celoteh, Dialog Pribadi, Dialog Sesama, Doa Pribadi, Iman, Kasih, Komunal, Kutipan, Pujangga, Refleksi, Religi

Berlari Kepada Yesus

Minggu sore, 7 Februari 2021 saya berjalan kaki santai menelusuri gang kompleks di Rawa Lumbu. Cuaca memang agak mendung saat itu sekitar pukul 17.11 WIB.

Saya masih berjalan santai ketika rintik-rintik air dari langit turun mengenai kepala saya. Namun dalam sekian detik tiba-tiba gerimis menjadi hujan lebat.

Saya pun mencoba berlari agak kencang menuju ke arah rumah mertua saya yang jaraknya sekira 30 meteran. Saya cukup ngos-ngosan setiba di rumah. Badan pun sedikit kebasahan.

Ketika merefleksikan bacaan Injil Markus 6:53-56, perhatian saya ditarik pada ayat ini. “Maka berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tilamnya kepada Yesus, di mana saja kabarnya Ia berada.” (Markus 6:55)

Saya sempat membayangkan banyak orang berlari-lari, mungkin tergesa-gesa ketika mereka mengusung orang-orang sakit di atas tilamnya menuju kepada Yesus untuk disembuhkan.

Saya kemudian membayangkan pula, betapa mereka berusaha secepat mungkin menghampiri Yesus dengan berlari-lari. Dugaan saya, mereka pasti cukup direpotkan dengan membawa tilam atau tempat pembaringan sekaligus si sakit tersebut.

Berbeda dengan era 2021 yang sudah memiliki alat cangih, seperti kursi roda, mobil ambulans, dan bahkan mungkin pesawat atau helikopter. Mungkin lebih mudah menggunakan sarana tersebut ketimbang tergopoh-gopoh berlari membawa orang sakit.

Bagi saya, Yesus itu sangat luar biasa hebat. Ke mana pun Yesus pergi, orang-orang memohon kepada Yesus supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Dan semua orang yang menjamah-Nya pun menjadi sembuh.

Saya menyadari keberdosaan saya membuat diri saya jauh dari Tuhan. Rasa-rasanya mustahil bagi saya untuk menjamah jumbai jubah Yesus pada detik ini.

Namun demikian, saya meyakini tidak ada yang mustahil bagi Tuhan untuk orang yang percaya dan mengasihi Yesus. Yesus berkuasa untuk menyembuhkan segala penyakit dengan berbagi sarana dan cara-Nya yang luar biasa.

Ada satu peristiwa iman yang saya alami ketika saya menjamah jumbai kain velum dalam Adorasi Sakramen Maha Kudus pada 4 Desember 2018. Saat itu saya meyakini bahwa Yesus hadir dalam Adorasi Sakramen Maha Kudus memberikan sesuatu yang terbaik untuk saya.

Sejak 4 Desember 2018 saya tidak lagi mengalami kesakitan nyeri saraf pada pinggang tengah bagian bawah di belakang badan saya (low back pain). Saya pribadi mengalami kesembuhan dari Yesus melalui Adorasi Sakramen Maha Kudus sejak saat itu hingga detik ini.

Dalam refleksi kali ini, apakah saya masih mau disembuhkan Yesus atau malah mencari pengobatan alternatif?

Apakah saya menyerah saja, pasrah, dan pasif seperti orang sakit di atas tilam yang akhirnya diusung oleh orang lain untuk memperoleh kesembuhan dari Yesus?

Ataukah sebaliknya, saya mau berusaha dengan sungguh-sungguh hingga berlari-lari menuju kepada Yesus untuk disembuhkan?
 
+Dimuliakanlah Tuhan detik ini, dan selama-lamanya. Amin.+

SY Melki SP

Refleksi Awam, Kalender Liturgi, 8 Februari 2021, Senin Pekan Biasa V
PF S. Yosefina Bhakti, Perawan dan PF S. Hieronimus Emilianus

Celoteh, Dialog Pribadi, Dialog Sesama, Harapan, Iman, Kasih, Komunal, Kutipan, Refleksi, Religi

Dihormatin Ada Kecualinya

Disclaimer!!! #Refleksi Awam edisi Gen Y (81-94) & Z (95-Now)

Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.” (Markus 6:4)

Hallo gaess jumpa lagi dengan gue. Kali ini gue sharing refleksi Injil Markus 6:4, bacaan Liturgi, 3 Februari 2021.

Saat baca ayat ini gue keingat saat masa muda-mudi gereja. Gue ngerasa lebih rohani ketimbang yang lain. Gue itu aktif dalam pelayanan rohani.

Tapi dulu itu ada gak enaknya gaes, karena gue malah dianggap sok suci, sok alim, dan disegani oleh orang-orang terdekat gue. Ada juga yang nolak gue, nyinyir dan ngebully karena gue dari keluarga yang biasa-biasa aja.

Gue bersyukur ternyata gue enggak sendirian. Dikisahkan oleh Markus (6:1-6) kalo Sohib Jesus sendiri tuh ternyata ditolak di kampung halamannya di Nazaret. Kerabat sekampung Sohib Jesus itu pada kecewa tuh karena tahu latar belakang keluarga-Nya.

Warga kampung Nazaret awalnya takjub sama mukjizat Sohib Jesus. Tapi sayangnya mereka nggak percaya dan nolak Jesus karena tahu kalo dia itu tukang kayu.

Emangnya ada yang salah dengan Sohib Sejati kita itu gaess? Gak ada! Mereka yang nggak percaya dan nolak Sohib Jesus karena mereka itu nolak Kebenaran Allah sendiri.

St. Blasius. (Foto: Google)

Ohia gaess, pada kenal Blasius? Dia itu Uskup di Armenia (Turki) yang hidup pada abad IV.

Waktu Gubernur Licinius gencar nganiaya umat Kristiani, Blasius dipenggal kepalanya pada taun 316. Uskup suci itu pertobatkan banyak orang kafir bahkan saat di dalam penjara.

Menariknya, Saint Blasius dipercaya doanya untuk ngelindungi segala macam penyakit tenggorokan. Saint Blasius dirayakan pestanya bersamaan St. Ansgarius setiap tanggal 3 Februari.

Kuy gaes, sudah waktunya kita jadi berkat untuk sesama. Sebagai pengikut Sohib Jesus, kita nggak perlu takut ditolak, dibully dan dikucilkan.

Gaes, kita bisa jadi berkat bagi siapa saja, bahkan bisa buat orang lain insaf kayak yang dibuat oleh Saint Blasius.

Kuy gaes, cara paling sederhana dan paling mudah kita lakukan yaitu dengan mulai berdoa. Doanya gaes minta hikmat ke Tuhan agar dikasih satu tindakan sederhana tapi nyata untuk dilakukan ke sesama.

Oke gaes, sekian dulu sharing refleksi gue. Sampai jumpa lain waktu.

Salam satu iman dalam Sohib Jesus.

By Melki @Harapan Jaya

Celoteh, Dialog Pribadi, Doa Pribadi, Harapan, Iman, Kasih, Kutipan, Pujangga, Refleksi, Religi

Tuhan Mengasihaniku

“Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!” (Markus 5:19)

Ketika aku merefleksikan Markus 5:1-20, khususnya ayat 19, aku teringat beberap peristiwa penting masa laluku yang penuh dengan dosa dan cacat cela. Banyak dosa yang aku perbuat membuatku jauh dari Tuhan.

Bukan hanya sekali aku dibebaskan dari kuasa kegelapan dosa. Sebab aku kerap jatuh dalam dosa yang sama berulang-ulang kali. Proses yang aku alami untuk terus bangkit juga tidak begitu mudah.

Dosa terberatku ialah berada dalam lingkaran hawa nafsu, hasrat seksualitas, dan banyak lainnya. Tidak mudah bagiku untuk lepas dari roh jahat yang telah merasukiku hingga bertahun-tahun.

Aku bersyukur Tuhan mengampuniku dalam rekonsiliasi pribadi di ruangan pengakuan dosa. Aku juga merasakan pembebasan batin saat memandang dan menyembah Tuhan dalam Adorasi Sakramen Maha Kudus.

Injil Markus yang aku refleksikan kali ini, singkatnya dikisahkan pada waktu Yesus naik lagi ke dalam perahu, orang yang tadinya kerasukan setan itu meminta supaya ia diperkenankan menyertai Dia. Namun Yesus tidak memperkenankannya.

Yesus berkata kepada orang itu: “Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!”

Kemudian orang itupun pergi ke daerah Dekapolis (sepuluh kota di perbatasan timur Kekaisaran Romawi di tenggara Levant pada abad pertama SM dan Masehi) untuk memberitakan segala sesuatu yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran.

Kisah yang dicatat Markus itu menginspirasiku. Kesembuhan yang aku alami, pengampunan dosa yang kudapatkan, dan perbuatan Tuhan yang telah mengasihaniku patut kusyukuri dengan memberitahukan kepada orang-orang terdekatku, komunitasku, dan semua orang.

Aku bersyukur Tuhan mengasihaniku. Ada beberapa kolega dan sahabat terdekatku yang merasa heran akan transformasi rohaniku dan kehidupanku. Banyak dari mereka yang tidak menyangka aku berubah menjadi lebih baik dari sebelum-sebelumnya.

Aku menyadari masih ada dosa-dosa kecil yang kuperbuat. Aku mengakui diriku bukanlah orang suci bersih dari segala dosa. Namun aku berharap aku masih diberikan kesempatan untuk mengakui dosa-dosaku kepada Tuhan.

Jika Tuhan menghendaki, aku mau segera mendapatkan Sakramen Rekonsiliasi pada masa prapaskah tahun ini. Demikianlah harapan terbesarku agar hidupku mempermuliakan Tuhan sehingga banyak orang ikut merasakan kasih Tuhan yang aku alami detik ini dan seterusnya. Amin.

Refleksi Awam, 1 Februari 2021, @Harapan Jaya, Bekasi Utara
SY Melki SP